I am not good enough

Yesterday was my D-day. I took the test to apply the youth exchange. I was asked to make 2 essays in 90 minutes.

I Couldn’t though about the problem. I only though about my opinion.

After the test I just realize that I still had the standard opinion. I am not the special one. 

By taedyminnie

Aku Belum Siap Menjadi Dokter

Kemaren sore aku dikejutkan dengan kabar bahwa saudari mamaku meninggal. Beliau memang sudah tak sehat lagi semenjak setahun yang lalu. Bisa dikatakan beliau sudah kehilangan semangan untuk hidup. Sejak beberapa bulan ini beliau memang tidak lagi mau makan. Terakhir aku bertemu dengan beliau pada hari pemilu yang lalu, beliau benar-benar sudah tidak berday. Kurus kering, tampak seperti penderita anoreksia. Tatapan nanar, tulang pipi sudah tidak dilapisi lemak. Bahkan beliau sudah tidak mampu bangkit dari tempat tidur. 

Sungguh miris. Tapi apa yang aku lakukan untuk beliau. Aku tidak melakukan apapun. Aku hanya berpesan, “Banyak-banyak makan yo, makwo.”. Hanya itu yang aku lakukan untuk beliau. Aku yang seorang mahasiswa kedokteran, tidak memiliki kesadaran sedikit pun untuk meminta kepada keluarga kami membawa beliau ke rumah sakit. Sudah jelas-jelas kondisi beliau sudah sangat buruk. Di mana rasa simpati ku berada, bahkan empati ku saja tidak hadir dalam diriku. Ya Allah, akankan aku menjadi dokter yang baik kelak. Kepada keluarga ku saja aku tidak perhatian.

Belum lagi aku tidak memberikan sedikitpun bantuan moral ataupun rohani pada beliau. Kondisi beliau yang seperti ink sebenarnya berhubungan juga dengan keputusasaan beliau dengan masalah keluargany. Beliau benar-benar lupa akan Allah. Aku pun terlalaikan tentang itu. Bahkan aku belum bisa menjadi saudara yang baik untuk sesama muslim.

Astagfirullah hal azhim

[Fanfiction] Love in the Heart

Love in The Heart
Cast: Park Gyumin, Lee Taemin

Aku harus mulai dari mana menceritakan kisahku. Aku harus memilihnya satu persatu supaya kalian tertarik mendengarkanku. Tapi memang tak ada yang menarik menerutku. Kalian jangan menyesal mendengar cerita yang tak berguna ini.
Aku Park Gyumin, 18 tahun. Aku hidup normal. Punya Appa, punya umma, juga punya yeodongseng. Sebenarnya masih ada satu lagi keluargaku. Oppaku, Park Jaebom, tapi dia telah meninggal karena kecelakaan. Aku sangat terpukul waktu itu. Bagaimana tidak, hanya oppaku lah yang menyayangiku di keluarga ini. Bahkan di dunia ini. Umma, Appa, dongsaengku, Park Shinmi tak pernah menganggap ku ada, apalagi untuk menyayangiku.
Ada satu hal yang ingin ku bicarakan hari ini dengan orang tuaku. Aku ingin mencoba cara ini untuk melihat apakah umma dan appa peduli padaku.
“Appa” aku di keluarga saat ini. Aku melihat Appa sedang sibuk membaca koran dan umma sibuk menukar channel TV. Appa sama sekali tidak meirikku.
“Hmmm”hanya itu jawabannya. Sebenarnya aku kecewa, sepertinya mereka memang tidak peduli.
“Apa, bolehkah aku tinggal di se buah apartemen sendiri. Aku ining hidup mandiri.” Aku menunggu jawaban beliau. Aku berharap jawabannya….
“Tentu…Aku senang kau memikirkan hal itu.” Jgeer,,,ternyata benar. APpa memang ingin aku pergi.
“Appa akan mengurusnya secepatnya.” Aku tak tahan lagi mendengar itu.
“Baiklah. Gomawo Appa.” Aku langsung berlari ke kamar. Air mataku menetes perlahan. Akhirnya, semua terjawab sudah. Aku memang tak diharapkan.
Disini lah aku sekarang. Tinggal seorang diri. Memang di sebuah apartemen yang lumayan bagus, tapi tak akan bahagia jika sendiri seperti ni. Kini aku merasa sangat sendiri. Walau appa berjani mengirimi uang tiap bulan, tapi ini tak cukup.
Lee Taemin POV
Huph, capek juga latihan dance seharian. Aku ingin dance ku sangat baik, karena aku ingin kuliah di New York nantinya. Pusatnya dance di dunia, aku ingin ambil jurusan dance di salah satu universitas disana.
Aku sudah dekat dengan apartemen tempat tinggalku. Disana aku Cuma tinggal sendiri. Appa dan umma sibuk cari uang, biarkanlah mereka berkembang. Aku tak peduli, aku juga sibuk dengan urusanku sendiri. Jadi aku tinggal sendiri, apalagi aku anak tunggal. Yang pentung bagiku, kebutuhanku tercukupi. Terserah mereka mau menemuiku atau tidak. Tapi biasanya mereka tetap mengunjungiku satu kali sebulan.
Hah, akhirnya sampai. Aku ingin segera mandi. Ku tinggalkan motorku segera. Aku sudah merasa gerah. Di Lobby aku melihat seorang gadis, sepertinya aku mengenalnya.Dilihat dari gayanya, aku seperti mengenalnya. Dia seperti yeoja yang menghiasi mimpi-mimpi belakangan ini. Aku berjalan ke arah dia berada. Ternyata benar, dia Park Gyumin, teman sekelasku. Kebetulan sekali, apa dia mencariku. Apada dia juga menyukaiku, ya. Secara aku yang paling populer di sekolah karena wajahku yang manis ini. Fufu…. Aku berjalan medekat.
“Annyeong Gyumin-ah. Ada apa kau disini? Apa ada urusan dengan ku.” Hehe…Aku berlagak sok penting. Mumpung ada cewek manis.
“Annyeong Taemin-ah, Anni, aku tak ada urusan dengan mu. Jangan GR dulu. Aku tinggal disini tau.” Ternyata aku salah ya. Ya, Park Gyumin. Kau berhasil membuatku malu.
“Jinjja, kau tinggal disini. Sama dong” Aku membesarkan mataku. Dia terkekeh.
“Ne, asyikkan. Kamu makin mudah untuk menenagakan PR padaku. Secara aku pintar gitu loh.” Aku menjitak kepalanya. “Ya, Taemin-ssi. Jangan kasar pada wanita.” Dia marah. Aku suka melihatnya. Hati ku merasa aneh sekarang. Bergemuruh.
“Siapa bilang aku akan minta bantuanmu. Aku ini jelas lebih pintar darimu.” Kini gilirannya menjitakku. Kami tertawa bersama. Senangnya aku akan menghabiskan banyak waktu bersamanya selama ini. HIHIHI…

Park Gyumin POV
Apartemennya bagus. Aku mungkin bisa tenang disini. Endiri yang benar-benar sekali. Tak seperti sebelumnnya, bersama tapi sendiri. Asanya lebih pahit. Aku akan tenang,
Tapi, apa aku akan tenang hidup disini. Aku teringat dengan Lee Taemin. Orang yang termasuk usil di sekolah, dia tinggal di apartemen sini juga. Ah, biarlah. Palingan dia usil di sekolah untuk cari perhatian. Disini untuk apa dia melakukan hal-hal aneh seperti biasa.
>6 bulan kemudian<
“Gyumin-ah, gwencanayo?”Taemin mengibas-ngibas mukanya di tanganku….
Eh salah, maksudnya mengibaskan tangannya di mukaku.
Aku mengangguk.
“Tapi, kau terlihat tak sehat. Wajahmu pucat.”
Aku hanya diam.
“Aa…aku tau. Kamu pasti terkejut melihat nilaimu. Jadi kau kalahkan taruhan kita sekarang.” Dia melirik kertas ulanganku. Aku hanya diam dan sibuk menahan sakit di sekitar pinggangku.
“Omo…benar. Kau kalah, kau lihat kan nilaiku. Aku dapat 88. Nilaimu hanya 85, Gyumin-ah. Jadi aku menang. Sesuai perjanjian, kau harus makan bakso super PEDAS.”
“Aku tak bisa Taemin-ah.” Aku memasang tampang sememelas mungkin.
“Jangan menegelak dan berpura-pura sakit deh. Huh, kau benar-benar suportif, GYumin-ah.” Aku terkejut karena dikatakan tak suportif. Siapa bilang aku tak suportif.Enak saja.
“Baiklah. Kau yang menyiapkannya, kan?”
“Siip.”
Taemin POV
Cihuy, akhirnya kali Ini aku memang. Biasanya aku kalah dengannya. Ini kesempatanku membalas kekalahanku. Taruhan sebelum-sebelumnya akibat kekalahanku, aku harus meneguk sebotol air cabe.
Belum lagi aku harus berlari mengelilingi lapangan basket 15 kali tanpa alas kai di musim dingin. Menyanyi melalui mikrofon sekolah sehingga seluruh sekolah tahu ancurnya suaraku. Ngajak Shin Sekyung jalan seharian, padahal dia yeoja terganas di sekolah ini karena bodinya super gede. Masih banyak lagi deh, karena keseringan kalah. Tapi kali ini aku menang.
Tapi kelihatannya Gyumin kurang sehat hari ini. Apa aku batalkan saja ya. Tapi kapan lagi aku bisa mengerjainya. Ah, aku tak peduli.
Akhirnya. Dia sampai di kantin. Makanan untuknya sudah ku siapkan. Yang super pastinya.
“Silahkan duduk, agashi manis. Sudah siapkan menerima tantangan?” Aku menebar senyum paling mempesona untuknya. Tangannya melayang ke kepalaku.
“Auh, Gyumin-ssi. Apa-apaan sih…”
“Kau yang apa-apaan Taemin-ah. Agashi manis…cih…” Aku tergelak mendengar protesnya.
“Ooh, kau malu ku panggil manis. Mmm, gimana kalau ku panggil,,,Chagi!!!”
Gyumin POV
“Mm, gimana kalau aku panggil . . . Chagi! ! !” Mwo, Taemin bercanda ya. Mau memanggil aku Chagi. Tapi dipikir-pikir, bias dimanfaatkan nih.
“Ne.” Kini gantian Taemin yang terkejut mendengar jawabanku. “Hajiman. . . Aku tak jadi makan ini.” Aku tersenyum sambil menunjukkan bakso ang sudah merah di depanku.
“Oo,,,tak bias. Kamu tetap harus memakannya Gyumin-ah.”
“Ah, sudahlah. Tak usah panggil aku Chagi.”
Terpaksa aku memakan bakso ini jadinya. Hh,belum apa-apa aku sudah merasakan pedasnya. Aku menyuapkan bakso itu ke mulutku. Baru di depan hidung, mataku sudah berair mencium bau pdasnya. Hap, masuk satu sendok ke mulutku.
“Hah. . .hah. . . hah. . . Air. . .Air. . .Ppalli.” Aku menjulurkan lidah ke luar. Taemin tertawa terbahak-bahak sambil mengulurkan segelas air putih. Aku langsung meneguk segelas air itu sampai kering. Muka ku panas, kayak kepiting rebus. Aku sampai-sampai menangis karena pedasnya.
“Sialan. . Hah. . hah. . berapa sendok sambal sih, yang masukkan Taem?”
Taemin cengengesan sambil mengangkat ke 10 jarinya.
“Hah. . .hah. . .gila. . . Lidahku sampai terbakar.” Taemin tertawa puas.
Saking kepedesannya, aku memukul-mukul meja. BIar deh, orang-orang pada ngelirik sadis padaku. Nggak. Tahan pedasnya. Taemin tertawa sampai memegang-megang perutnya, saking kencengnya tertawa.
Aku kesal melihatnya. Aku ambil sesendok kuah bakso dan menyiramkannya kea rah Taemin. Taemin berteriak.
“Ah. . .sakit. Gyumin-ah apa yang kau lakukan?” Taemin menutup sebelah matanya yang kena kuah bakso, air mata mengalir dari matanya dengan deras. Dia menangis terharu karena matanya kena air cabe. Taemin kemudian berlari ke toilet.
Aku yang tadinya nangis karena kepedesan, sekarang jadi nangis karena tertawa melihat Taemin. Rasain. . . siapa suruh masukin cabe sebanyak itu.
Tiba-tiba perut sekitar pinggangku sakit lagi. Argh,,, bagaimana ini, Sakitnya berkali-lipat dari sakit yang biasa. Aku memang sering sakit di sekitar pinggang. Tapi tidak sesakit ini. Ku tekuk badanku, menekan pinggangku keras-keras. Kemudian ku letakkan kepalaku di meja.
Taemin POV
Kurang ajar Gyumin. Teganyadia menyiramku dengan air super pedas itu. Kalau aku jadi rabun gimana, Aku memasang muka marah seelah kembali dari toilet dan berjalan mendekat ke meja Park Gyumin.
“Ya, Park Gyumin. Kamu apa-apaan sih, Kalau aku buta gimana ha?” Aku berteriak seperti berbicara dari megaphone. Semua orang menatapku dengan tajam. Tapi Gyumin tidak menyahut.
“Ya, Gyumin-ssi.” Aku memukul bahunya kasar. Tapi tetap tidak menyahut. Tak biasanya dia begitu. APa dia sakit karena makan bakso tadi. Mampus aku. Aku menarik tubuhnya dari meja untuk m elihat wajahnya.
“Omo, Gyumin-ah. Kau kenapa, apa perutmu sakit. . . . . . ya, Gyumin-ah, bicaralah. Jangan membuatku takut.” Ku guncangkan tubuhnya, tapi tak juga keluar sepatah kata pun dari mulutnya.
“ Oh My God. . . Apa kau mati. Jangan mati Gyumin-ah. Aku takut.” Aku memeluk tubuhnya yang telah lemas. Semua orang berkumpul di meja kami karena mendengan keributan. TApi mereka hanya menonton.
“Hmmm.. . akh..” Aku mendengar rintihan.
“Gyumin-ah. Syukurlah kau masih hidup.”
“Pabo. . .TAk mungkin aku mati hanya karena makan bakso.” Suaranya sangat lemas.
“Ha. . .ha. . Aku memang pabo Gumin-ah. Aku bodoh tlah menyuruhmu memakan makanan seperti itu.”
“Hmph. . .A kh. . .sakit. . .” Gyumin mengerang kesakitan.
“Gyumin-ah. Kau kenpa? Kamu sakit.” Gyumin terus mengerang kesakitan tanpa menjawab pertanyaanku. Matanya dipicingkannya. Pinggangnya diremas-remas kuat.
“Tolong panggil ambulans. Cepat!!” Teriakku pada orang-orang yang menonton kami.
-1 jam kemudian-
Bagaimana ini, aku harus latihan dance dengan chinguching ku di group dance. Gyumin belum juga menyadarkan diri. Kulihat lagi Gyumin, tubuhnya terlihat lemah. SElang infuse terpasang di pergelangan tangannya. Aku menyesal telah melakukan hal bodoh dengan menyurhnya makan makanan pedas itu.
Tut. . .tut. . .HP ku bordering. Ada pesan masuk. Di layarnya tertulis ‘Onew-chicken hyung-“
“Taem kamu dimana. Segera kesini. Jangan menghancurkan latihan terkahir kita. Kita ikut seleksi besok. Cepat kemari, Arasseo!” Tegas sekali hyungku yang satu ini, teriaknnya memekakkan telingaku. Aku tak berani membantahnya.
“Ne, Ara. Hyung, aku hanya terlambat sedikit saja kok. Mian.”
Terpaksa aku meninggalkan Gyumin sendiri. Aku tak akan lama, aku janji.
Gyumin POV
Kepalaku pusing, badanku lemas banget. Aku berusaha membuka mata perlahan-lahan. Huhm, , ,bau rumah sakit. Aku benci tempat ini, tempat terakhir aku melihat wajah oppa.
Aku melihat ke sekeliling, tak ada orang. Tentu saja, aku memang sendiri selama ini, semenjak oppa meninggal. Krek. . . Bunyi pintu di buka. Siapa itu?
“Annyeong Gyumin-ah. Syukurlah kamu sudah sadar. Aku sangat khawatir.” Taemin berjalan masuk kamar diikuti 4 namja yang tak ku kenal. Taemin mendekati ranjang tidurku dan memegang tanganku pelan. Srr. . . aneh rasanya. Aku tak mengerti, darah di jantungku mendidih.
“Mianhamnida, aku menyesal.” Taemin tampak memohon.
“Gwenchana. Aku memang kalah bukan, dan ini sesuai perjanjian.” Aku berusaha menenangkannya.
“Gomawo, Gyumin-ah. Gyumin-ah ini teman-temanku. Mereka group danceku. Ini yang bermata super sipit. . .hehe.” Temin mengangkat tangannya, karena orang yang ditunjuknya melotot. “Mian hyung. Namanya Onew. Yang paling tinggi namanya Minho. Yang paling pendek namanya Jonghyun. Yang paling aneh namanya Key.”
“Annyeong.” Sapa mereka serempak. AKu membalasnya hanya dengan senyuma. Taemin ha nya cengengesa. Aku tak peduli jika dia akhirnya babak belur oleh teman-temannya itu. Biar dia merasakan sakit juga, seperti aku yang sakit sekarang.
“Gyumin-ssi, kami balik dulu. Kami Cuma memastikan Taemin sampai dengan selamat. Karena dia sangat penting besok. Kamu akan ikut seleksi masuk universitas besok. Semoga lekas sembuh.” Orang bernama Onew itu melambaikan tangannya. Diikuti temannya yang lain. Mereka berbalik dan keluar dari ruangan.
“Haha.kau sudah tau bukan. Aku ini orang penting.” Taemin berkacak pinggang dan memerkan semua giginya yang tersusun rapi.
“Huh. . Emang aku peduli.”
“Kau harus peduli.”
“Trus ngapain kesini, kalau memang sibuk.” Aku menudingnya.
“Menemanimulah.” Balasnya tak mau kalah. “Aku tidur disini.”
“A. . .apa. . .kau . . .tidur disini. Oo tak bisa. Kau jangan macam-macam denganku Lee Taemin.”
Taemin tertawa mendengarku. “Dasar. . . Aku tak separah itu. Aku tidur di sofa itu. Jangan khawatir.”
“Oh. . . baiklah.”
“Ok. Sekarang tidurlah kembali.”
Aku memicingkan mata. Aku merasa sangat malu. Pabo. . .kenapa aku memikirkan hal itu. Cekikikan Taemin masih terdengar pelan, membuatku semakin malu. Ini bisa menjadi kesalahpahaman. Aku mengintip dari sudut mataku. Dia juga mencoba tidur, berkali-kali Taemin terlihat mengganti-ganti posisi tidurnya. Pasti tidak enak tidur dalam posisi tidur seperti itu.”
“Taemin-ah.”panggilku.
“Hmm. . .”Aku membenci mendengar jawaban seperti appa itu.
“Kau mendengar aku bukan?” Diam sejenak. “Gomawo. . . kau telah menemaniku. Maaf merepotkanmu.”
“Aku senang kau membuatku repot.” Aku terdiam mendengar jawabannya. “Besok, kamu aka nada pemeriksaan Labor. Takutnya asa penyakit di tubuhmu, begitu kata dokter tadi. Tapi aku tidak bisa menemanimu.” Taemin berbicara tanpa membuka matanya. Kali ini dia tampak menawan bagiku.
“Araseo. Semoga sukses besok.” Kembali kami diam. Dan akhirnya aku tertidur.
Taemin POV
Daebak. . .Aku harus tampil maksimal hari ini. Tak ingin cita-citaku hancur, aku menyusun rencana besar untuk hidupku. Aku ingin menjadi penyanyi *emang aku penyanyi* seperti Michael Jackson *itu idolaku*
“Gyumin-ah, aku akan pergi sekarang. Nanti kau akan ku temani suster ke labor.” Aku mengacek rambutnya. Tangannya yang lemah mendorong tanaganku . Aku merasa berat meninggalkannya.
“Ne. . .Pergilah cepat.” Aku tersenyum padanya. Aku melangkah ke pintu sampai Gyumin membuatku memberhentikan langkah. “ Taemin-ah, cepatlah kembali, sendiri itu tidak enak.”
Aku mengangguk pelan dan berlalu pergi. Aku harus meneguhkan diri untuk pergi. Karena ini untuk masa depanku.
Gyumin POV
Aneh rasanya setelah kembali dari labor. Aku jadi tambah lemas. Aku ingin Taemin cepat kembali. Aku mulai m erasa membutuhkannya.
-2 hari kemudian-
Aku sudah 3 hari dirawat di rumah sakit. Dokter belum mengizinkan pulang, karena hasil labor ku telat keluar. Menyebalkan. Rencananya hari ini ku sudah bisa pulang jika hasilnya sudah selesai. Seorang dokter masuk ke ruang inapku.
“Gyumin-ssi. Bagaimana keadaanmu?”
“Aku sudah baikan, dok.”
“Apa ada keluarga yang menungguimu?” Dokter itu memasang tampang yang serius. Perasaanku jadi tidak enak.
“Mm. . .Aku sendiri.” Ya aku memang sendiri. Taemin baru kembali hari ini.
“Kalau begitu. . .”
Tiba-tiba terdengar ketukan pintu.
“Aku keluarganya, dok.” Aku terkejut mendengar suara itu. Pemilik suara itu kemudian masuk ke kamarku. “Aku yang mengurusi keperluannya.” Taemin melenggang masuk.
“Tolong ke ruangan saya.” Dokter itu memegang bahu Aemin dan bejalan ke luar. Setelah yakin si Dokter itu menjauh aku melontarkan berbagai pertanyaan padanya.
“Taemin-ssi. Kemana saja kau? Apa maksud mu mengatakan kau keluargaku? Dan kenapa tampangmu aneh begitu?” Taemin menutup mulutku. “Hmp. . hmp. . . apa-apaan ini?” Aku berusaha melepaskan tangannya.
“Aku tak akan jawab pertanyaanmu. Aku Cuma akan member berita bagus padamu. TApi nanti, setelah dari ruangan dokter.”
Taemin POV
Aku sangat merindukannya. Aku juga mencemaskannya sendirian di rumah sait. Tapi kenapa dokter menyuruhku ke ruangannya. Apa Gyumin sakit parah. Perasaanku tidak enak, aku takut dia pergi. Dia keluargaku, kami sama-sama hidup sendiri. Jadi dialah keluargaku.
Aku mengetuk pintu ruangan yang terbuat dari kayu itu. Terdengar suara jawaban dari dokter. Aku membuka pintunya. Tampak ruangan yang rapi.
“Silakan duduk. . .” Si dokter menunjuk kursi di depannya. Aku pun duduk disana sesuai perintahnya.
“Mm. . Gomapsumnida. Taemin imnida.”
“Ne. . Taemin-ssi. Maaf sebelmnya, sesuai dari hasil lab kami menemukan penyakit di tubuh Gyumin agashi.”
Ternyata benar, ini kabar buruk. “A. . apa? Aku tidak mengerti ?”
“Begini Taemin-ssi. Gyumin agashi mengalami gagal ginjal.”
Aku tidak percaya. “Bagaimana bisa, dokter.”
“Sepertinya, Gyumin agashi sudah lama merasakan sakit ini. Tapi tidak pernah memusingkannya. Apa dia pernah kecelakaan.”
“Sepertinya pernah. Waktu kecelakaan dengan oppanya 1 tahun lalu. Bagaimana nantinya dokter?
“Tentu yang terbaik yang kita inginkan. Untuk saat ini, Gyumin agashi harus melakukan cuci darah. Tapi itu tidak bisa bertahan lama. Cara yang paling tepat dengan cara cangkok ginjal. Tapi sulit untuk mencari ginjal yang cocok. Apalagi kondisi Gyumin agashi sudah parah. Kita harus menemukan donor secepatnya.’
Aku tak bisa mempercayai kata-kata dokter. Gyumin sakit parah. Aku merasa tak berguna. Aku tidak bisa menjaga Gyumin. Pabo.
“Ne. Aku akan mencari donor yang cocok dokter. Gomawo.”
Aku berdiri dan berjalan keluar ruangan itu. Dadaku menjadi sesak. Pikiranku berkecamuk. Apa Gyumin sebaiknya ku beri tahu. Aku takut dia malah jadi drop.
Drrd…Hp ku bergetar. Onew hyung menelpon. Hm, tepat sekali. Aku sebaiknya bertanya kepada hyung.
“Yoboseo.Hyung.”
Terdengar suara Onew hyung. “Taeminnie. Gwenchanayo. . . Sepertinya ada sesuatu yang buruk terjadi.”
“Hyung. . . “ Aku tak mampu berbicara lagi.
“Ne, taeminnie. Ada apa.”
Diam sejenak. Paru-paruku serasa menyempit. Aku hirup udara dalam-dalam untuk mengembangkan paru-paruku yang terasa sempit.
“Gyumin gagal ginjal.”
“Mwot. . .A. . .apa aku tidak salah dengar.?”
“Aniyo, hyung. Gyumin sakit. Aku bingung.”
“Taemin, aku tahu kau suka Gyumn. Karena itu, aku yakin kau tahu apa yang terbaik untuknya. Aku percaya itu. Kau harus kuat untuknya.”
“Gomawo hyung.”
Aku putuskan untuk tidak member tahu Gyumin. Itu yang terbaik. Kemudian aku meuju ruang rawat Gyumin. Tapi bagaimana caranya untuk melakukan pengbatan jika dia tidak tahu. Aku jadi bingung.
“ha. . Taemin-ah. Bagaimana? Apa kata dokter besok aku boleh pulang bukan?”
Aku berusaha untuk tersenyum. “Ne. . Besok kita pulang.”
“Syukurlah. Aku ingin sekolah lagi. Mengalahkanmu taruhan.”
“Tak akan.” Aku mencibir. Aku berusaha menutupi kesedihanku. “SEkarang waktunya tidur.”
“Ne. . “
Aku benar-benar tak tahan melihat senyumannya. Pasti taka akan ada senyum itu jika dia tahu yang sebenarnya.
Aku duduk di samping tempat tidurnya. Aku perhatikan wajahnya dalam-dalam.
“Taemin-ah.” Aku terkejut. Gyumin menatap heran.
“Taemin-ah. Jangan menatapku seperti itu. Kau membuatku malu.
Aku tergagap. “A. . mian. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu.”
“Taemin-ah. Apa berita bagus yang akan kau beri tahu.”
“Oh iya. Aku hamper lupa. Berita bagusnya ku. . .diterima di Univeeritas New York.”
“Jinjja. Chukae. . .”
“Gomawo gyumin-ah. Tapi, aku tak sesenag itu.”
“Apa yang membuatmu tak senang? Itu kan hal yang hebat.”
Aku ragu mengatakannya. Apa sekarang saatnya aku beritahu. “ Aku tak mau pergi. . .Aku tak mau jauh darimu.”
“Chi. TAemin-ah. Kau gila.”
“Aniyo. . .Aku jatuh cinta. Aku mencintai Korea. Aku menyukai Seoul. Dan, aku menyayangimu Park Gyumin.”
Nampak wajah Gyumin tersipu malu. “SAranghae, Park Gyumin.” Aku memberanikan diri untuk memegan tangannya.
Gyumin memalingkan mukanya. Aku tau dia malu. Tapi aku menyukai hal ini. Lama dia memalingkan muka.
“Na do saranghae, Lee Taemin.”
Sekarang aku yang merasa malu. Park Gyumin, kau embuatku merana. Perlahan Gyumin menoleh. Rasa ingin memilikinya menguasai diriku. Aku sangat ingin memeluknya. Tubuhku seperti terdorong untuk mendekatinya. Tanpa ku sadari bibirku telah menyentuh bibirnnya. Chu.
Gyumin POV
Untuk pertama kalinya. Chu. . .Hihi aku malu. Aku malu untuk membuka mata. Takutnya dia menatapku. Aku membuka mata perlahan. Aku melihat Taemin sedang di sofa. Untungkah dia tidak sedang memandangku. TAemin sedang sibuk dengan laptopnya. Sepertinya sedang sibuk browsing di internet.
Aku berusaha duduk. Aku perhatikan Taemin tanpa mengeluarkan suara. Aku memikirkan kejadian semalam. Aku malu, tapi senang. Aku merasa disayangi dan tak sendiri lagi.
“Gyumin-ah” Aku tersentak. “kau telah bangun. Ayo makan dulu.”
“A.. a. . Taemin. Aku. . . “
“Ada apa? Kamu kenapa? Ada yang sakit? “ Taemin bergegas mendekat.
“Aniyo. . Gwenchana. Aku ingin cepat pulang. ‘
“Araseo. Tapi makan dulu. Ara!”
Taemin lucu seperti ini. Aku benar-benar bahagia. Makanan yang diberikannya langsung ku santap sampai habis. Semangat hidupku meningkat.
“Mwo. . .Kau rakus sekali ternyata.”
Aku memamerkan semua gigiku. Taemin terkekeh.
Taemin POV
Akhirnya Gyumin keluar dari rumah sakit. Aku berjanji menjaganya dengan baik.
“Andwae. Jangan angkat itu. Biar aku yang bawa.” Aku terkejut melihat Gyumin akan mengangkat tas yang baru diturunkan dari mobil.
“Baiklah. Kau yang angkat.”
Aku mengambil tas itu. Aku tak akan membiarkan dia susah. Aku akan memperhatikan semuanya.
Sesampainya di apartemen, Gyumin langsung berlri. Pasti dia sangat rindu pulang. Gyumin langsung mineral dan meneguknya dengan cepat.
Aku baru sadar. Gyumin tidak booleh meminum air terlalu banya. Begitu yang aku ketahui dari internet. Aku menyambar botol air mineral itu.
“Taemin-ah. Apa yang kamu lakukan.”
“Aniyo. Aku tak suka melihatmu minum sambil berdiri.”
Gyumin hanya mengangguk. Untung dia tak banyak Tanya.
“Taemin-ah Kamu mau es krim?”
“Ne, aku mau. . . “ langsung aku berlari ke dapur. Gymin mengeluarkan sekotak es krim dari lemari es. Aku merampas kotak itu dan melahapnya sendiri.
“Taemin-ah. Kau jahat.”
“Es krim ini punyaku tau.”
Gyumin cemberut. Aku tak tahan melihatnya. Tapi aku harus. Ini untuk kebaikannya.
Gyumin POV
Taemin aneh sekali. Dia terlalu protektif belakangan ini. Ini semenjak aku keluar dari rumah sakit. Memang sekarang aku yeoja chingunya. TApi atak harus seperti ini.
Porsi makan dan apa yang akan ku makan pun sekarang diaturnya. ?Aku memang sering sakit. Malah sangat sering belakanga ini. Terutama di pinggangku.
Hari ini aku ada janji dengan Taemin. Aku taka tau diamengajak kemana. Padahal aku merasa benar-benar tak enak badan hari ini. TApi dia memaksa.
“Kita mau kemana Taemin.?”
“Ikut saja.”
Aku hanya diam. Aku tak suka diperlakukan seperti nin. Lebih baik aku diam.
Aku menatap Taemin. Dia menyetir dengan konsentrasi. Aku baru kali ni melihatnya seperti ini. Baru 3 hari aku jadi yeojachingunya, sekarng aku sudah muak dengan tingkahnya.
Kami berhenti di rumah sakit. Aku semakin tak mengerti dengan Taemin. Kenapa ke rumah sakit.
“Taemin-ah Menagapa kita kesini?”
Taemin hanya diam. TAemin-ah jangan buat aku mara. Tapi matanya merah. Apa yang terjadi sebenarnya. Aku jadi mengkhawatirkannya.
“Mianhe, Chagi. . .”
Taemin menarik tubuhku dan mendekap ku dengan erat. Sungguh hangat. Tapi basah, air mata TAemin membasahi bajuku. Adaapa ini. Apa yang membuatnya sampai menangis seperti ini.
“Taemin-ah. Kau menangis?”
“Ani, aku tak menangis.”
“Taemin-ah, jujurlah padaku. Aku ini yeoja chingumu.”
Taemin melepaskan pelukannya dan berbalik membelakangiku. Tampak sekali dari belakang bahwa dia sedang membersihkan air matanya.
“Gyumin-ah.” Taemin mulai berbicara. Tampak kesedihan dari matanya yang sekarang merah. Aku menatapnya lekat-lekat, bertanya-tanya dalam hati. Hatiku jadi tidak enak.
“Gyumin-ah. Berjanjilah padaku untuk tidak membenciku.” Aku mengangguk ragu. Apa-apaan ini, untuk aoa dia minta aku berjanji unutk hal itu. “Aku mau jujur padamu. . . “ “Waktu kamu dirawat di rmah sakit kemarin. Dokter memberitahuku bahwa kamu. . . “ Sepertinya ini berita buruk. Aku tidak ingin mendengar. “bahwa kamu menderita penyakit gagal ginjal.”
Ternyata benar dugaan ku. Itu memang berita buruk. Tak bisa ku tahan, air mataku mengalir. “Dan secepatnya kamu harus transplantsi ginjal.” Aku tahu maksudnya. Aku harus meminta bantuan keluargaku. Donor dari mereka. Pasti itu yang akan dia pinta kepadaku.
“Andwae. Aku tak akan menghubungi mereka. Ara!” Aku member tekanan dalam kata-kataku.
“Tapi, , , kita harus. . .”
“Masih ada cara lain bukan?” Aku membelalakkan mataku pada nya.
“Ne. Untuk sementara kamu bisa cuci darah. Tapi tak bisa bertahan lama.”
“aku pilih itu. . . “ Aku membentaknya. Emosikumeluap. Sekarang aku tidak tahan menahan air mataku. Aku menangis sejadi-jadinya.
Taemin menarik tubuhku lagi. Aku menumpahkan emosiku dengan menangis di bahunya.
“Mianhe, Chagi-ya. Aku harap kau tak membenciku.”
“Aniyo. Aku taka akan membencimu Taemin. Aku taka akan bisa membencimu.”
“Gomawoyo. . .”
Taemin mencium keningku dengan lembut. “Gyumin-ah. Jangan pernah meninggalkanku.”
Aku merubah posisi dudukku dan bersandar di bahunya. “Aku yang harusnya mengatakan hal itu. Kau akan meninggalkan dengan mudah.”
“Tidak akan.”
Taemin POV
Walau aku mengkhawatirkan Gyumin, tapi aku tak bisa mengatakan keadaanya ke keluarganya. Aku berjanji padanya, dan tak akan pernah melanggarnya. Memang sebaiknya aku harus cari donor lain.
Sekarang sudah 2 bulan Gyumin harus bolak-bolik ke rumah sakit untuk cuci darah. Selama itu aku selalu menemaninya. Namun keadaannya tak membaik, malah semakin memburuk. Mukanya selalu tampak letih dan pucat. Badannya sekarang juga sudah tampak kurus. Berat badannya berkurang 15 kg dari sebelum sakit. Aku takut dia tidak bisa bertahn.
Minggu depan kami akan mengahadapi ujian Negara. Aku akan mebantunya semampuku dalam belajar.
“Taemin, berhentilah memandang laptop selagi makan. Kau menumpahi meja dengan makananmu.”
Aku menyungut mendengarkan kemarahannya. Akhir-akhir ini Gyumin menjadi lebih temperamen. Dari data yang aku dapat, kemungkinan ini akibat dari kadar garam dalam darahnya tinggi karena penyakitnya.
“Aigo. Jangan membentakku seperti itu. Aku mencari info tentang penyakitmu. Siapa tahu ada yang mau membantu kita.”
“Huh. . . Aku tak peduli.”
Aku tak mau bertengkar dengannya. Karena akan memperburuk keadaannya saja.
“Hoek. . .hoek” Gyumin meninggalkan makanannya dan berlari ke dapur. Sepertinya dia mau muntah. Aku berlari ke dapur. Aku mengelus-elus punggungnya supaya dia merasa lebih baikan.
“Gyumin-ah, kau kenapa?”
“Molla. Aku merasa mual sekali.”
Aku mengangguk. . . . Omo. . .
“Andwae. . .Jangan bilang kau hamil.” Aku takut hal ini terjadi. Bagaimana mungkin, kami tak pernah tidur bersama. Aku juga tidur di apartamenku sendiri bukan di tempat Gyumin.
“Andwae. . . Aku tak mau punya anak. . . Apalagi denganmu. KITA BELUM MENIKAH.”
Aku terduduk lemas.
~~~~~~~~~~~~~~~~
Aku membopong Gyumin ke kamarnya. Dan mengoleskan ke tangannya minyak angin. Bagaimanapun Gyumin sedang sakit,, , apalagi sekarang. . . Mungkin mengandung anakku.
Gyumin tertidur, aku kembali ke laptop. Browsing. Setelah membaca seluruh informasi di internet, aku tertawa sendiri menertawai kebodohanku.
Gyumin POV
Aku terbangun saat ku lihat di jam dinding sudah menunjukkan jam 10. Sudah malam ternyta. Taemin pasti sudah pulang. Aku terpikir kejadian tadi siang. Aku tak menyangka akan seperti jadinya. Aku akan punya bayi. . .Aku tidak bisa memicingkan mataku lagi.Bagaimana aku yang sakit keras ini akan merawat bayi. Tentu kasihan anakku nanti.
T Apa bagaimana bisa aku hamil. Aku tidak pernah melakukan apapun dengan Taemin. Atau mungkin pernah melakukan sesuatu kepadaku saatku terlelap tidur. Secara, dia bisa masuk ke apartemen ini seenaknya. Aigo. . .Aku bisa gila
~~~~~~~~~~~~~~~
Paginya Taemin sudah dating ke apartemenku. Setelah berpkaian rapi untuk ke sekolah. Aku belum melakukan apapun waktu dia dating.
“Ini makananmu. Makanlah sebelum dingin. Aku sudah bangun pagi-pagi untuk memasaknya.”
“Aku tak mau makan. Dan tak ingin ke sekolah.”
“Mwot. Minggu depan kita sudah ujian. Jangan mala. . . “
“Untuk apa aku kesekolah bukannya tidak boleh orang yang lagi hamil bersekolah. Aku malu. . . “
Taemin mebekap mulutnya, Dia membungkuk, seperti orang yang sedang sakit perut.
“Omo. . . Kau kenapa Taem. . .”
“Kh.kh. . . haha….ha……”Tawa Taemin membahana mengisi ruangan. Aku yang semula panic menjadi jengkel melihatnya.
“Gyumin-ah, kau kira bisakah seorang namja membuahi yeoja jika tidak pernah melakukan apapun?”
“Molla.”
“Seingatmu, apa saja yang pernah kita lakuka?”
“Mmm. . .kita pernah . . .ciuman. . .baru satu kali.”
“Trus. . .”
“Pelukan.” Kami diam sejenak.
“Apa ada yang hamil karena ciuman ataupun pelukan.”
“Tidak pernah ku dengar.”
“So. . . “
“Aku tak hamil.”
“Ne, bingo. Kau benar.”
“Trus. . . kemarin?” Taemin mendekatkan tubuhnya hingga aku terdesak ke dinding.
“Itu karena penyakitmu.”
Aku menahan napas. “Mm,ne.”Aku merunduk ke bawah. Berniat untuk pergi dari ruang makan.
“Gyumin-ah. Disinilah untuk sebentar.’ Aku menahan langkahku. Dan menghentikan niatku untuk pergi. “Gyumin-ah. Apa kau yakin kita ciuman hanya satu kali.” Aku mengangguk pelan. “Mm. . .Bagaimana kalu menurutku dua kali.”
Aku mengangkat alis. “Kapan yang kedua?”
Taeminsemakin mendesak tubuhku ke dinding.
“Sekarang. . . “
Aku terkejut. “Mwot. . . Aku. . .Aku belum menggosok gigi.”
Taemin menyunggingkan senyum tipis. “Gwenchana.” Aku pun menutup mata. Chu. . . i. . chu.
Taemin POV
Aku mendorong tubuh Gyumin ke dinding. Gyumin menutup matanya. Aku merasa lucu melihatnya, niat jahil ku muncul. Ku dekatkan wajahku ke Gyumin. Ku daratkan ciuman di keningya. Gyumin tampak terkejut, kemudian memonyongkan bibirnya.
“Kau sangat menginginkannya ya, Chagi. . . .”Aku menggodanya.
“Naega. . . Huh, aku tak menginginkannya.” Gyumin berlari ke kamarnya. Aku tertawa kecil.
30 menit aku menunggunya di ruang makan. Gyumin keluar dengan seragam rapi. Rambutnya yang sebahu dibiarkannya tergerai.
“Sudah siap? Makan makanan inidulu.”
“Shireo. . .Kita pergi sekarang.”
Aku tahu sepertinya Gyumin ngambek. “Kau benar-benar menginginkannya ternyata.” Aku tersenyum jahil.
“Shireo.. . .”
Aku menarik tangannya dan mencium bibirnya yang tipis. Matanya membesar, tampak sekali di terkejut. Bahkan dia menahan napas.
“Sudah kita lakukan yang kedua.” Aku tersenyun licik dan berlari ke luar, Aku langsung ke parkiran dan menunggu Gyumin di mobil.
Gyumin POV
Taemin berlari ke luar. Pipiku terasa panas. Yang ke dua benar-benar ada. Ada yang berbeda di dalam dadaku sekarang ini. Hatiku sangat, sangat, sangat bahagia. Ukurannya seperti bertambah.
Terdengar suara langkah kaki dari pintu depan. Sepertinya Taemin datang lagi, untuk menggodaku mungkin. Aku berlari ke pintu. “Ya. . .Taemin-ah”
“Park Gyumin.”
Ternyata aku salah, yang datang bukan Taemin. Yang datang adalah orang yang tidak mempedulikan aku selama ini.
“Annyeonghaseo, Abeoji.”
“Gyumin. Appa mau berbicara denganmu.”
“Ne.” Aku mengikuti appa dari belakang.
“Gyumin-ah. Appa mau mananyakan, untuk apa kamu menggunakan uang sebanyak ini?” Appa meletakkan sehelai kertas. Aku mengambil kertas putih itu. Tertulis angka yang cukup besar disana. Bagaimana aku harus mengatakan beahwa aku menggunakan uang itu untuk berobat.
“Mianhae, appa.” Aku tak berani menatap mata appa.
“Gyumin. Appa membiarkanmu hidup sendiri, supaya kamu menjadi mandniri dan dapat mengatur hidupmu dengan baik. Bukan untuk berfoya-foya. Appa tak masalah kamu kamu menggunakan uang sebanyak itu. Uang appa tak akan habis hanya karena menggunakan uang sebanyak itu. Tapi, belajarah untuk menghargai sesuatu, karena tidak semuanya mudah didapatkan.” Aku hanya diam membisu. “Appa harap kamu dapat menekan pengeluaranmu. Jika kamu, appa mengurangi uang sakumu dan memindahkanmu ke sekolah yang memiliki asrama. Araseo!”
“Ne, Appa.” Lagi-lagi aku tidak berani menatap mata appa.
“Kamu tampak kurus sekarang Gyumin. Makanlah yan gbanyak, juga kesehatanmu. Bukankah minggu depan ujian Negara untuk mu!”
“Ne. . . “
“Tetaplah mendapatkan nilai terbaik. Appa tidak mau melihat nilai menurun. Mmm, , ,berangkatlah ke sekolah sekarang.”
“Ne, appa. Annyeonghaseo.”
Aku tak menyangka Appa akan datang. APalagi membicarakan hal tadi. Mau tidak mau, aku harus memangkas semua pengeluaranku. Tapi ini berarti aku tak bisa beroba lagi. Aku tidak berani mengatakan soal hali kepada appa.
Aku hanya bisa menangis, aku tak tau cara menyelesaikan masalah ku. Aku tetap tidak ingin mengatakan semuanya kepada appa dan eomma. Aku hanya akan kecewa seandainya mereka tak peduli dengan keadaanku sekarang. Sambil berjalan lambat aku tak berhenti memikirkan solusi masalahku. Tapi aku hanya bisa menangis. Otakku seperti tidak mampu memikirkan apapun.
Masih berjalan dengan lambat, aku menuju ke parkiran. Taemin pasti telah menunggu disana.
“Park Gyumin. Kau sungguh lama. Aku sudah berjamur menunggumu disini.”
“Hmm. . “
“Ya, Park Gyumin.”
Aku tak bisa menjawab ocehan Taemin. Aku tidak ingin dia tahu aku sedang menangis. TAnpa berbicara sedikitpun , aku langsung duduk di jok sebelahnya dan memasang sabuk pengaman. Mukaku ku tutupi dengan rambut ku yang tergerai.
“Ya, Park Gyumin. Jawablah. . . “ Taemin menarikku cukup keras. Aku tidak bisa menutup mukaku yang basah. “Omo, , ,Chagi kau menangis. Mianhae. . .Aku terlalu kasar.” Aku bersandar di bahunya. Dan menangis sejadi-jadinya. Lama kami dalam posisi yang hangat itu.
Taemin POV
Gyumin menangis sesegukan sampai akhirnya tertidur. Tampaknya kami tak mungkin ke sekolah hari ini. Aku bingung, kenapa Gyumin menangis. Apa kau salah telah menciumnya. Aku sungguh merasa menjadi namja yang pabo.
Aku melepas sabuknya dan menyandarkan tubuhnya. Ku buka pinti disampingnya dan menggendongnya turun dari mobil. Tubuh Gyumin sangat ringan sekarang. Dengan mudah aku mengangkatnya keluar dari mobil.
Sebaiknya dia tidur di kasur, Tidak enak tidur dengan posisi tadi. Setelah menidurkan Gyumin di kamarnya. Aku merogoh saku dan mengambil Hp ku. Ku cari nama seseorang di kontak dan menekan dial.
“Yeoboseo. . .”Jawab suara diseberang.
“Ne, Kibum hyung. Apa sudah ada donornya?”
“Mianhae, Taem. Anak buah appa belum menemukan yang cocok. Bersabarlah, kami tidak berhenti berusaha.”
“Ne, Gwenchana. Gomawo hyung.”
“Cheon. . .”
Telepon ku putus. Bagaimana ini, Gyumin mungkin saja tidak bisa bertahan untuk waktu lama. Aku takut dia pergi sebelum aku sempat menemukan donor untuknya.
“Taemin. . .Hajima. . .Hajima. . .Jangan pergi. . .”
Terdengar teriakan Gyumin dari kamarnya. Aku bergegas ke kamarnya.
“Oppa. . Jaebeom oppa. . .Aku tak ingin pergi.Aku ingin disini. Aku harus bersama Taemin.”
Apa yang dikatakannya Gyumin. Jaebeom. . . Bukankah itu oppanya. Bukankah orang itu sudah meninggal. Andwae. . .Kau tidak boleh menjemputnya, Gyumin tidak boleh pergi.
“Gyumin-ah. Bangun. Kamu bermimpi.” Aku menepuk pipinya dengan lembut. Pipinya panas, suhu tubuhnya juga panas, tapi kakinya sangat dingin. Eottoke.
Aku angkat lagi tubuhnya dan membawanya ke mobil. Dalam sekejap aku membawanya ke rumah sakit yang tidak terlalu jauh dari apartemen.
“Dokter. . .Tolong teman saya.”
“Ne. . Suster bawa ke UGD,” Gyumin dibawa ke ruangan yang ditutup. Aku hanya bisa menunggunya di luar.
-5 jam kemudian-
Kenapa ini, Gyumin belum juga sadar. Aku takut dia tak akan pernah bangun lagi. Eomma. . . Aku takut.
-3 jam kemudian-
Aku sudah kembali dari apartemen untuk menukar baju dan makan siang. Tapi Gyumin belum juga bangun, kakinya masih dingin.
“Oppa. . .”
Terdengar bisikan kecil dari mulut Gyumin. Aku langsung berdiri untuk membangunkannya.
“Chagi. . .Jangan membuatku takut. Bangunlah.”
Perlahan dibukanya matanya. Aku merasa lega.
“Taemin-ah. Kita dimana?”
Gyumin mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Ekspresi wajahnya langsung berubah drastic, Gyumin mencoba duduk dan melepaskan selang oksigen.
“Gyumin. Berbaringlah, jangan memaksakan diri.”
“Andwae. Aku tidak mau disini.”Gyumin masih memaksakan diri untuk bangkit.
“Kau hatus disini. Ara!”
“Aniyo. Aku harus pulang.”
“”Tidak. . .”
“Jebal, bawa aku pulang.” Gyumin akan melepas selang dari tangannya ke mesin cuci darah.
“Jangan. Ok ok. Aku akan membawamu pulang. Tapi setelah cuci darah.
“Aniyo.”
“Please, believe me. You would better stay here than at home. Untill this night. At ten pm, I’ll pick up you to the home.”
“Aku takut kamu pergi.”
“Never. I’ll stay behind you.”
Akhirnya Gyumin tenang.
“Gyumin-ah. . .Kamu ingin selalu disisiku bukan?” Gyumin mengangguk.”Setelah ujian, kita berangkat ke New York.”
“Mwot. Taemin. . .Naega. . .”Gyumin tampak ragu. Aku takut dia menolak.”
“Wae. . . Kamu tak ingin pergi?”
“Aniyo. . .Aku sangat ingin. . .Geundae. . “
“Geundae?”
“Appa membatasi uang untuk ku. Aku tak akan punya cukup uang untuk kesana. Dan mungkin, aku tidak akan meneruskan pengobatan ini.”
“Aniyo. Kau harus sembuh. Kau harus berobat,. . Masak appamu tak mengerti. Harta appamu banyak bukan?”
“Ne, tapi appa tak tahu kondisi ku.”
“Geurae, aku yang biayai.”
“Andwae. Kamu sudah sangat cepot menguruskan. Jangan bebani dirimu lagi dengan masalahku.
“Masalahmu itu masalahku.”
Gyumin terdiam, kemudian menundukkan kepala. Butiran air matanya jatu satu-satu. Ku peluk tubuhnya.
“Gyumin, saranghaeo. . . “
Gyumin terisak.”Taemin-ah. Aku sangat beruntung menjadi diriku. Baru kali ini aku merasa kali ini aku merasa untung menjadi diriku ini.
“Tidurlah. Aku bangunkan nanti.”
-H -1 Ujian Negara-
Besok hari penentuan di mulai. Ternyata, memang tidak enak di posisi sekarang. Ketakutan tidak akan lulus begini ternyata rasanya. Untuk menenangkan pikiran, hari ini Gyumin mengajak ku jalan-jalan. Pagi-pagi aku langsung menjemputnya ke apartamennya.
“Annyeong, Chagi. Siap?”
“Ne.”
“Kajja.” Aku me narik tangannya. Kami berncana pergi ke mall. Duduk-duduk disana, dan bermain game yang ada disana. Saking cintanya nge-dance, tentu aku akan memilih permainan yang membuat semua anggota tubuh bergerak itu. Gyumin hanya duduk memperhatikanku tak jauh dari sana.
Setelah puas bermain, aku menuju ke tempat Gyumin berada.”Kamu mau main apa?”
“Tidak ada. Ayo keluar. . Aku pusing disini, terlalu ramai.”
“Hm. . Kajja.”
Kemudian kami berjalan ke luar mall itu. Gyumin berhenti ketika melihat toko . Aku pun berhenti berjalan. Gyumin masuk ke dalam toko itu, ku ikuti dari belakang. Seorang pelayan toko pria muda mendekatinya.
“Annyeonghaseo. . Ada yang bisa saya bantu?”
“N, , ne. Aku minta sebuah jam yang special untuk namja yang berdiri disana.” Gyumin menunjukku. Dari tempat ku berdiri, aku masih bisa mendengar percakapan mereka.
“Ini yang menurutku cocok.” Si pelayan toko memamerkan sebuah jam kepada Gyumin. Gyumin mengeluarkan jam itu dari kotak dan memberikan kartu kreditnya kepada pelayan itu. Setelah semuanya selesai, Gyumin mendekati ku.
“Taeminnie, ini untukmu. Tolong dijaga dengan baik, jangan sampai hilang ataupun rusak.”
“Mwot. . . Untuk ku? Tapi bukankah sebaiknya kamu berhemat. Appa mu bisa marah dan memindahkanmu jika kamu menghabiskan banyak uang.”
“Ani. . .Percayalah padaku.”
“Gomawo, Chagi. Aku akan selalu memakainya.”
Kemuadian kami berjalan-jalan di sepanjang jalan raya. Aku sengaja tidak bawa mobil. Supaya kami bisa berjalan santai berdua.
“Chagi, kalau capek beritahu aku.”
“Mm. . “Gyumin mengangguk.
Kami berjalan tanpa membeli makanan apapun, juga minuman. Sangat susah mencari makanan yang sehat untuk Gyumin.
“Taemin-ah. Kamu ingat, kita pernah bermain permainan tadi bersama-sama.”
“Ne. Aku tak lupa.
“Aku ingin bermain itu juga. Untuk terakhir kalinya denganmu.”
“Andwae. Jangan paksakan dirimu.”
“Araseo. Aku hanya ingin menari bersamamu.”
Gyumin bereni berjalan dan memegang tanganku. Baru kali ini Gyumin mau memegang tanganku. Jantungku berderak kencang dibuatnya.
“A. . .a. . Gyumin-ah”
“Chagi, aku mau kita ke tempat ski ice.”
Deg. . .Gyumin memanggilku dengan sebutan Chagi. Tak biasanya, aku dibuatnya melayang.
“Tapi sekarang tutup.” Jawabku.
“Kamu tau kenapa tempat itu tutup? Aku menyewanya khusus hari ini.”
“Jinjja.” Aku sungguh tidak percaya.
“Kajja. Kita kesana.”
Jantungku bergetar hebat. Aku tambah menyayanginya. Gyumin membuka gerbang tempat itu. “Gyumin-ah. Disini sangat dingin. Kamu bisa sakit.”
“Aniyo. Kita hangat disini.”
Gyumin memberikan sepasang sepatu kepadaku. Aku untuk sekian kalinya, berbunga-bunga karenanya. . Gyumin telah dulu masuk ke arena ski Ice. Gyumin berseluncur dengan indah. Hampir aku lupa, dulu Gyumin juga seorang penari. Gyumin selalu mengelak setiap aku mencoba memegang tangannya, sampai akhirnya dia lelah.
“Chagi. Gwenchanayo? Kau tampak pucat.” Posisi berdiri Gyumin sudah goyang dan seperti akan terjatuh.
“Ne. Gwenchana.” Aku tak bisa tinggal disana. Langsung saja aku menopang tubuhnya. “Gomawo.”
Tiba-tiba, terdengar alunan music merdu. Musiknya begitu tenang dan indah.
“Taemin-ah. Aku ingin berdansa denganmu.”
“Apa kamu masih kuat? Gyumin mengangguk yakin. Kami bergerak dan berputar mengikuti irama music. Pegalaman ini sangat indah.
“Taemin-ah. Ini adalah acara perpisahan kita.” Gyumin berbisik di telingaku.
“Aniyo. Sekolah kita belum mengadakan perpisahan. Lagian, kita akan selalu bersama, tidak ada perpisahan.”
“Baiklah kalau menurutmu begitu.” Lama kami hanyut dalam alunan music itu.
-pukul 5.00 pm-
“Gyumin-ah. Tanganmu dingin. Kita sebaiknya segera pergi.”
“Ne, memang sebaiknya begitu.”
Di jalan kami tetap berpegangan tangan. SEmpat terbersit perasaan buruk melihat perbedaan dari Gymin.
“Gyumin-ah. Terima kasih untuk hari ini.”
“Aniyo. Aku lah yang seharusnya berterima kasih. Terima kasih telah menemani ku selama ini.”
“Ne. Cheonmaneyo.”
Di apartemen kami masih bergandengan tangan. Gyumin sepert I tak ingin melepas tanganku.
“Chagi. Sebaiknya kamu lekas tidur. Kamu tampak kecapekan. Sangat banyak yang kamu lakukan hari ini.”
“Ne.”
Aku pun bergegas ke apartemenku.
“Jamkamman. Taemin-ah, temani aku. Jangan pergi.” Aku terkejut mendengar permintaannya. “Jangan pergi sampai aku tertidur. Jebal.. . “
“Ne. Aku akan disini sampai kamu tertidur.”
-Hari Ujian Negara-
Setelah siap dengan semua perlengkapan ku, aku bergegas ke apartemen Gyumin. Aku bisa masuk dengan mudah karena sidik jariku sudah masuk ke kunci keamanannya. Gyumin sepertinya belum bangun. Apa dia telat bangun. Tak biasanya, perasaanku tak enak.
Aku mengetuk pintu kamarnya, tapi tak ada jawaban. Jangan-jangan. . .Please, jangan terjadi. Aku nekat masuk. Ternyata benar Gyumin belum bangun. Apa dia sudah pergi. Please. . .jangan pergi. Aku memegang tangannya, sangat dingin. Aku merasa sangat cemas. Ku coba memeriksa nefasnya. . . . . . . .
Untunglah dia masih hidup. Ku tepuk pipinya pelan. “Gyumin-ah. Bangunlah. . .” Gyumin membuka matanya pelan.
“Ha. . . Taemin-ah. Aku terlambat bangun ya.” Suara Gyumin terdengar sangat kecil. “Aku harus segera bersiap-siap.”
“Andwae. Kau sudah parah begini. Apa masih memikirkan ujian. Pikirkan lah sedikit dengan dirimu senditi. Kenapa tidak memanggilku semalam?”
“A. . .Aku taka pa-apa. Aku baik-baik saja.”
“Kita tidak usah ujian. Kita ke rumah sakit saja.”
“Shireo. . .”Gyumin berteriak, walau teriakannya sangat kecil. “Aku akan ikut ujian. Aku harus menjadi yang terbaik. Ini hadiah untuk appa, eomma, dan dongsaengku. Hadiah terakhir.”
“Jangan bicara seperti orang yang akan mati, Park GYumin.”
“Wae. . .”Air mata GYumin mengalir sekarang.” Aku memang akan mati dalam waktu dekat. Jangan menolak takdir Lee Taemin.”
“Mianhae. . .Aku tak seharusnya berbicara seperti itu.” Gyumin hanya diam. “Baiklah. Kita ikut ujian.” Gyumin mulai tersenyum mendegar keputusanku.
“Aku akan membantu menukar baju. Tak usah mandi.”
“Shireo. Aku saja yang tukar sendiri.” Muka Gyumin memerah. Ah, Taemin. Apa yang telah kamu katakan.
“Aku tunggu di luar.” Tak sampai 10 menit, Gyumin telah keluar kamar. Tampak tapi, walau sangat pucat.
“Ini, sarapanmu.” Aku menyodorkan mangkuk makanan.
“Aku tak nafsu.”
“Aku akan menyuapimu. Jadi makanlah agak sesendok.”
“Baiklah.”
Setelah makan, aku meboping Gyumin ke mobil. Tubuhnya terasa lebih berat. Sepertinya dia sudah tidak bisa menopang dirinya sendiri.
“Taemin-ah. Aku ingin memberimu sesuatu.”
“Ye. . .Mm. Apa itu?”
“Tutuplah matamu.”
Karena GYumin memintanya, aku pun memejamkan mataku. Tiba-tiba sentuhan lembut di bibirku. TErnyata ini hadiah yang dimaksud Gyumin. Ini pertama kali Gyumin menciumku. Ciuman kali ini beda, memiliki rasa cinta. Selain itu, juga basah. Gyumin sepertinya menangis. Ciuman itu berlangsung hamper 5 menit. Sampai Gyumin melepaskannya ciumannya.
Aku tak bisa berkata apapun. Hatiku campur aduk. Gyumin pun demikian, tak sedikitpun bersuara. Butuh waktu yang cukup lama untuk menstabilkan hatiku lagi. Baru aku mulai mengendarakan mobil ke sekolah.
Aku membopong Gyumin sampai ke ruang ujiannya. Karena tak mungkin dia berjalan sendiri dalam keadaan seperti ini. Bel berbunyi, aku langsung menuju ke ruangan ujianku yang berada dengannya.
“Gyumin-ah. Berjanjilah padaku kamu akan baik-baik saja.” Gyumin menangangguk. Aku mencium keningnya.
Selama ujian aku berusaha untuk focus. Umumnya soal-soal dapat ku kerjakan dengan baik. WAlau ada beberapa yang aku ragukan, tapi sudahku isi semua.
Sampai mata ujian terakhir aku bisa menyelesaikan dengan baik. Sedang asyik memeriksa jawaban aku mendengar keributan diluar, Aku meliaht jam tangan yang diberikan Gyumin. Hari sudah malam. Omo. . . . aku baru ingat sehari ini aku tidak pergi ke tempat GYumin. APa dia baik-baik saja. Apa dia makan siang tadi. Oh My God!
Aku berlari ke luar. “Stop. Mau kemana kamu?”Suara pengawas menghentikan langkahku.
“Ne. . .Aku mau izin keluar.”
“Apa kamu sudah selesai?”
“sudah”
“Silakan keluar.”
“Gomapsumnida.”
Aku berlari sepanjang lorong. Aku berlari sampai ke ruang ujian Gyumin. Disana sudah banyak orang. Apa Gyumin pingsan? Aku masuk ke kelas itu. Beberapa petugas berusaha mengangkat tubuh Gyumin. Ternyata Gyumin benar-benar pingsan. Aku berlari ke mejanya.
“Gyumin-ah. Kenapa tak menepati janjimu. Kau pingsan lagi.” Semua orang menatapku heran. “Kenapa menatapku begitu. Aku ini namja chingunya. Dia sakit parah. Tolong bawa dia ke rumah sakit segera. Jebal.”
Mendengar itu, mereka mengangkat GYumin ke luar. Aku merapikan semua barang-barangnya. Ku lihat kertas jawabnnya ternyata msaih banyak yang belum dihitamkan. Aku takut dia tidak mendapatkan nilai baik. Aku berniat menghitamkan lembar jawabannya.
“Nak. Apa yang kamu kamu lakukan? Janagan membantu mengisi kertas itu.”
“Aku hanya menghitamkannya, saem.”
“Tapi . . .”
“Aku mohon. Anda lihat kan, Gyumin sudah menandakannya. Aku hanya membantu menghitamkan. Mohon saem, beri aku izin, Anda bisa mengawasi saya. Saya tak akan menukar jawanbnya. Anda tahu kan Gyumin murid berprestasi. Apa anda tega seandainya dia tidak lulus.”
“Ne. Aku akan mengawasi.” Dengan hati-hati ku hitamkan jawaban Gyumin. Tepat sebelum jamnya berakhir, aku sudah selesaikan semuanya. Setelah itu aku bergegas ke rumah sakit.
Di rumah sakit, tampak seorang bapak dan istrinya sedang menangis. Aku sepertinya mengenali mereka. Iya, mereka appa dan eomma Gymin. Kenapa mereka disini. Apa mereka tahu GYumin sakit. Aku tidak peduli. Aku langsung berlari ke ruangan Gyumin di rawat.
Di ruangan itu berdiri seorang dokter dan perawa yang sedang melepas alat-ala di tubuh Gyumin. Aku tak ingn tahu apa yang terjadi. Tapi ku lihat tubuh Gyumin tak bergerak. Mukanya sangat pucat, lebih oucat dari biasa. Suster menarik kain putih pentup tubuh Gyumin dan menutup muka yeoja yang palingku sayangi.
“Andwae. Jangan tutup, dia masih hidup aku yakin. Dia berjanji padaku untuk hidup. Dia akan selalu disampingku. “ Aku menangis sejadi-jadinya. Pria yang kuduga appa Gyumin menarik ku dengan keras keluar dari kamar itu.
“Kamu siapa?”
“A. . aku. Namja chingunya.”
“Apa kau tau selama ini dia sakit keras.” Nampak marah dari air mukanya.
“Ne. Aku tahu.” SEbuah tamparanmendarat mulus dipipiku.
“Kenapa kau tidak memberitahu kami. Pasti Gyumin tak akan mati jika dia bersama kami.” Eomma Gyumin menarik tangan suaminya.
“Appa. Sabarlah. Gyumin kita tetap tidak akan hidup walau kau membunuh anak ini.”
Gyumin kita apa maksud mereka. Bukankah mereka tak menyayangi Gyumin.
“Ahjussi. Apa pedulimu? Anda tak menyayanginya bukan. Hanya aku yang menyayanginya.”
“Kurang agat. Tahu apa kamu tentang ku.” Kembali tampaean mendarat di pipiku.
“Ahjussi. Kau tidak menyayanginya.”
“Diam Kau anak muda.”
Aku berlari meninggalkan mereka. Aku sangat kesal dan menyesal. Keal karena disalahkan oleh keluarga GYumin. Dan menyesal kerena aku tak bisa menjagnya dengan baik, sampai detik terakhir aku belum juga menemukan donor. Dan sekarang aku benar-benar kehilangannya. Dia tak akan kembali. Kemarin ternyata benar-benar perpisahan bagi kami.
HP ku bergetar. Ada telepon masuk. Di layar tampak itu telepon dari Kibum Hyung. “Yeoboseo.”
“Hm, Taemin-ah. Aku sudah dapat donor yang cocok.”
Mwot. Kenapa baru sekarang.
“Aniyo. Buang saya donor itu hyung. Aku tak butuh.”
“Mwot? Kau mau yeojachngu mati?”
“Dia sudah mati hyung. Belum 1 jam dia pergi.”
“Jinjja?”
“Ne. Dia telah pergi. Dia tinggalkan aku hyung. Hu. . .hu . . .Dia bohong padaku hyung. . .Aku harus gimana?”
“Taemin-ah. Kau jangan kemana-mana. Aku akan ke tempatmu.”
Aku berjongkok di sudut. Aku masih belumbisa percaya Gyumin mati. Aku. . .aku. . .
Key POV
Taemin pasti sangat labil sekarang. Aku harus menemukannya. Bisa-bisa dia melakukan hal yang bodoh. Dia sangat mencintai Gyumin, aku tahu dari sorot matanya.
Di sudut, dekat bung namoak ada yang pingsan. Aku takut itu Taemin. Aku berjalan mendekat ke sosok itu. TErnyata benar. Itu Taemin, pasti dia sangat terguncang. Aku berlari mencar dokter. Beberapa perawat namja mengangkat Taemin ke ruangan. Aku harus memberitahu yang lain.
Taemin POV
Kepalaku pusing. Aku tak punya tenaga. Separuh jiwaku pergi dibawa oleh Gyumin. Aku tak punya semangat.
“Lee Taemin.” Terdengar suara namja yang sangat kenl.
“Appa. . .Hu. . hu. .Aku. . “
“Sst sst. . kau jangan seperti bayi lagi. Kau harus kuat, jangan lemah seperti ini.”
“Tapi, appa. . .”
“Kau harus mau menerima resiko ini. Resiko karena mencintai, kau harus rela menanggung resiko kehilangan.”
Aku hanya bisa menangis tersedu-sedu.
“Kau tetap harus ke New York. Ini demi yeojamu. Dia tak akan tenang melihatmu seperti ini.
Appa benar. Yumin tak akan tenang jika aku berhenti sampai disini. Aku harus kuat.
“Ne. . .Aku tidak mau dia sedih.”
-Hari Kelulusan-
Hari ini pengumuman hasil ujian Negara. Aku yakin akan lulus dengan nilai bagus. Aku bangga dengan nilaiku bagaimanapun hasilnya
“Sebagaimana kita semua tahu . Saat ujian kemarin, kita kehilangan teman sejawat kalian.” Kepala SEkolah memulai pidatonya. Aku merasa ingin menangis.
“Kita tahu semangatnya untuk ujian. Walau sudah tak mampu untuk ikut, tapi tetap mengikuti ujian sampai titik darah penghabisam.”
“Kita berikan pernghargaan khusus bagi teman kita, park Gyumin yangbisa kita contoh semangatnya berjuang, Dengan ini kami bengga menyatakan bahwa Park Gyumin lulus menempuh ujian Negara dengan nilai memuaskan dan menduduki peringkat kedua se sekolah.” Tepuk tangan membahana. Aku terharu.
“Selain itu kami juga bangga memberikan penghargaan kepada Lee Taemin sebagai peringkat pertama tahun ini dengan nilai yan sangat memuaskan.” Teriakan terdengar riuh. Aku tak percaya, aku mendapat nilai terbaik.
“Dipersilakan pada Lee Taemin untuk maju dan memberikann sepatah kata.”
Aku berjalan ke depan. Ku lihat hyung-hyung ku tersenyum bangga padaku. Pasti GYumin juga akan bangga padaku.
“Terimakasih kepada bpak. Aku sama seklai tidak menyangka mendapat nilia terbaik tahun ini. Tentu sebagai manusia, aku merasa banga dengan prestasiku.”
“Tapi, bagiku aku bukanlah yang terbaaik. Yang terbaik bagiku adalah Park Gyumin Bukan karena aku memiliki hubungan special dengannya, tapi memang itu lah adanya. Dalam kondisinya yang memburuk saat ujian, dia berhasil mencapai peringkat setinggi tu. Bayangkan jika dia sehat. Aku tak ada apa-apa dibandingkannya.”
“Aku ingat kata-kata terakhirnya. Dia ingin mendapat nilai terbaik. Ini hadiah untuk appa, eomma da n dongsaengnya. Sampa akhir hayatnya dia masihmemikirkan keluarganya. Walau sepanjang hidupnya dia merasa tak disayangi keluarganya.”
“Tapi, di hari kematiannya, aku baru tahu. Ternyata ada kekeliruan padanya. Aku ingin sekali memberitahunya bahwa orang tuanya sanga menyayanginnnnya. Tak mungkin mereka menangis jika mereka tak menyyanginya.”
“Aku hannnnna berharap dia enang aku akan selalu mengingatnya. Dia juga akan ku bawa ke Ney York san mapai mati.” Tepu ktangan memberiku semangat. Aku serasa hidup untuk kedua kalinya.
-keberangkatan ke Yew York-
“Taem, cepatlha kita harus berangkat. Kita akan berkarir di New York.” Minho hyung menarik tanganku.
“Jamkamman, hyung. Ada yang datang kemari.”
“Nugu?” Tanya Jonghyun hyung.
“Gyumin appa dan eomma.” Minho dan Jonghyun hyung pergi. Mereka memberiku kesempatan berbicara dengan merek.”Annyeonghaseo Ahjussi, Ahjumma. “ Aku menyapa mereka dahulu sebagai yang lebih muda.”
“Ye. . .Taemin-ssi.”
“Ne.”
“Gomapsumnida, Kamu telah merawat Gymin dan memberinya kasih saying yang mungking tida didaptnya di rumah.”
“Aniyo , ahjussi. Aku tahu anda menyayanginya.”
“Ye. Tentu kami menyayanginya. TAemin-ah, kamu telah benyak menghabiskan waktu dengan Gyumin. Aku tahu GYumin mencintaimu. Kalian menghabiskan wku yang panjang di apartemen itu.” Aku mengangguk mengiyakan.
“Untuk tiu, aku memberikan apatemen itu padamu. Aku tahu kamu akan pergi. Tapi kau tak akan selamanya disana bukan.”
“Mianhae, ahjussi.”
“Tunggu sebentar. Ini kunci mobil Gyumin. Ini hadih untuknya jika ia menjadi terbaik ujian Negara. Menurutku kau berhak mendapatkannya . Karena kau sebagian dari Gyumin.”
“Ahjussi. . .”
“Taemin-ah. Gyumin adalah penerusku. Sekarang dia tiada. Tapi diai hidup di dalam dirimu. Aku harap kamu bisa menggantikan posisinya.”
“Mianhae Ahjussi. Gyumin tak akan terganti.”
“Ye. .ye. Araseo. Tapi aku mau kkamu memegang sahamnya. Aku telah meniapkan nya. Kami punya cabang di New York, aku harap kamu mau mengelolanya.” Aku tidak percvaya dengan semua ini. “ TAemin-ah. Aku ingin kamu menganggap kami orang tuamu.” Aku terkejut mendengar permintaannya GYumin appa. Tapi kenapa!
“Wae?”
“Karena cinta Gyumin ada di dirimu. Itulaj diri Gymin yang ada di dirimu.” Aku teridiam .Apa sebaiknya. . .
“Ne, appa, eomma.Anggaplah aku anak kalian. Kalian boleh mencurahkan kasih saying kalian kepada Gyumin melalui ku.”
Gyumin-ah kau memang benar-benar kebahagiaanku, bahkan setelah kamu pergi. Dan selalu akan hidup di hatiku

PELAJARAN KECIL UNTUK SI KECIL

Angin bertiup sepoi-sepoi. Bau rumput masih dapat ditangkap oleh hidung. Beberapa binatang yang keluar di malam hari masih dapat dilihat. Matahari pun masih malu-malu menampakkan wajahnya dan memilih untuk berlindung di balik awan. Udara pagi yang lembab dan segar memenuhi paru, saat yang tepat untuk melakukan latihan ataupun olahraga kecil.

            Di minggu pagi ini, beberapa orang memilih untuk melakukan lari pagi mengelilingi tempat tinggal. Bahkan ada yang bersepeda sekeluarga, dengan mengendarai sepeda masing-masing. Seorang gadis kecil berusaha untuk mengayuh sepedanya yang mungil seperti tubuhnya. Keringatnya mulai bercucuran di pelipisnya. Gadis berjilbab itu diiringi oleh kakaknya yang menggunakan sepeda yang lebih besar, bersama orang tua mereka yang tidak jauh berada di depan mereka.

            Gadis kecil berusia lima tahun itu, bernama Tiwi. Tiwi mulai merasa kecapekan dan memilih untuk berhenti. Kakaknya, Tio, pun ikut berhenti. Mereka berdua menepikan sepedanya, sedangkan orang tua mereka tetap mengayuh sepedanya menuju tempat tujuan mereka di sebuah lapangan yang biasa ramai pada hari minggu.

            “Udah capek aja, wi? Kita bisa ketinggalan nih.” Kata Tio.

            “Tiwi haus kak.” Jawab Tiwi.

            Tio menyodorkan botol air minumnya kepada adiknya. Tiwi langsung meminum air tersebut sambil berdiri.

            “Tunggu dulu, wi. Baca bismillah dulu, minumnya sambil duduk,” kata Tio. Tiwi pun duduk di trotoar dan meneguk air minumnya.

            “Alhamdulillah,” ucap Tiwi. Tio tersenyum pada adik kecilnya tersebut. Tiwi mengembalikan botol tersebut kepada kakaknya. Tiwi yang masih berumur lima tahun itu, bertanya-tanya kenapa dia disuruh duduk dulu. “Kenapa Tiwi harus duduk kak?”

            Tio berusaha menjawab pertanyaan adiknya yang punya rasa ingin tau tinggi. “Rasulullah mensunahkan untuk minum saat duduk. Kakak juga pernah membaca di internet, katanya minum saat berdiri tidak baik untuk perut. Perut bisa sakit, air yang yang kamu minum bisa langsung menghantam lambung mu , lho.”

            Tiwi mengangguk-angguk walau sebenarnya tidak mengerti dengan apa yang dijelaskan kakaknya. Setelah rasa capeknya hilang, Tiwi menegakkan sepedanya lagi yang diikuti oleh Tio. Mereka melanjutkan perjalanan mereka ke lapangan. Jalanan masih terlihat sepi, Tiwi menjadi lebih leluasa untuk mengendarai sepeda tanpa harus merasa takut tertabrak kendaraan lain.

            Sesampainya mereka di lapangan, sudah banyak orang yang berada di sana. Mereka berdua kemudian mencari orang tua mereka. Di sebuah kedai makanan kecil mereka melihat orang tua mereka duduk disana. Beliau berdua melihat mereka dari kejauahan, kemudian melambaikan tangan. Kedua anak itu menggiring sepedanya ke kedau kecil itu dan memarkirkan sepedanya di samping kedai.

            Mereka pun memasuki kedai yang hanya ditutupi oleh terpal besar yang melindungi mereka dari panas  matahari pagi. Walau sebenarnya panas matahari pagi itu sehat, tetapi tidak menyenangkan juga jika harus makan berpanas-panas. Si kecil Tiwi langsung berlari untuk duduk di samping ibunya.

            “Tiwi mau pesan apa?” tanya ibu.

            “Tiwi mau bubur ayam, bu,” jawab Tiwi.

            “Kak Tio mau pesan apa?” tanya ibu lagi saat Tio sampai di sebelah Tiwi.

            “Sama aja bu,” jawab Tio.

            Ibu penjual makanan itu pun menyediakan pesanan mereka. Tak berapa lama kemudian pesanan mereka pun datang. Tiwi memandang makanannya dengan penuh semangat. Setelah berdo’a, Tiwi langsung menyantap makanannya. Tio tertawa melihat tingkah adik kecilnya, kemudian dia mengikuti adiknya yang menyantap bubur itu setelah berdo’a.

            Tiwi sudah menghabiskan sebagian dari buburnya. Tiba-tiba dia berhenti menyuapkan makanannya lagi. Ibu dan Ayah memandang heran pada anaknya yang tadinya sangat semangat menyantap buburnya, dan sekarang terlihat tidak semangat lagi untuk menghabiskan makanannya.

            “Loh, kok makanannya gak dihabiskan Wi? Mubazir,” kata Ayah pada anak bungsuny a itu.

            “Udah kenyang yah,” jawab Tiwi singkat.

            “Makanan gak baik disisakan, Wi. Kalau kamu menyisakan makanan, artinya kamu teman syetan,” kata ayah lagi.

            Wiwi memandang ayahnya penuh tanda tanya. Kenapa dia bisa dikatakan sebagai teman syetan, sedangkan dia tidak pernah berbuat jahat. Dia tidak berbohong dan tidak menyakiti orang lain. “Kok Tiwi teman syetan, yah?”

            Ayah memandang anaknya yang cemberut.  Yang lainnya pun ikut tersenyum saat melihat Tiwi kecil cemberut. Bahkan Tio tertawa melihat adiknya memanyun bibirnya. Ibu mengusap kepala anaknya itu dengan lembut.

            “Kalau kita membuang-buang makanan, itu mubazir. Orang yang mubazir itu tidak disukai Allah. Bahkan Allah menjadikan orang yang mubazir itu teman bagi syetan,” kata ibu. Tiwi kelihatan takut mendengar kata-kata ibunya.

            “Trus, Tiwi harus gimana ibu? Tiwi gak mau jadi teman syetan,” kata Tiwi dengan polosnya.

            “Makanya, kamu harus menghabiskan makananmu. Gak baik menyisakan makanan, siapa rahmat Allah yang besar untuk kamu berada pada sedikit makanan yang kamu sisakan. Kamu hanya menjadi orang yang merugi jika membuang rahmat Allah,” tambah Tio.

            Tiwi pun memandang lagi makanannya yang berada di atas meja. Tangannya kemudian menggapai sendok yang berada di dalam piring. Dengan perlahan-lahan, dia mulai menyuapkan lagi bubur itu ke dalam mulutnya. Sampai akhirnya tidak ada bersisa bubur di piringnya. Ayah dan ibu tersenyum bangga kepada anaknya. Bangga kepada Tiwi yang mau mendengarkan kata-kata orang tuanya dan bangga kepada Tio yang dapat mengajarkan dengan baik adiknya yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi itu.

            “Alhamdulillah,” kata Tiwi setelah meneguk air minum. Ayah kemudian membayar untuk semua makanan yang telah mereka pesan. Setelah mengucapkan terima kasih, mereka semua kemudian keluar dari warung kecil itu. Keluarga itu kemudian berjalan santai mengelilingi lapangan seperti beberapa keluarga yang lainnya yang mengisi lapangan tersebut.

            Ayah dan Tio kemudian berlari beriringan, meninggalkan ibu dan Tiwi yang berjalan-jalan sambil melakukan gerakan kecil. Ibu dan Tiwi kemudian berhenti di sebuah kumpulan orang yang melakukan senam pagi. Ibu kemudian mengikuti gerakan yang dilakukan orang-orang tersebu. Tiwi ikut menirukan walau sebenarnya dia tidak bisa mengikutinya dengan baik. Kebanyakan orang-orang yang ikut adalah ibu-ibu, hanya ada beberapa anak yang berada di sana termasuk Tiwi.

            Sebelum panas semakin terik, keluarga tersebut menuju rumah mereka. Mereka mengambil sepeda mereka yang tadinya mereka tinggalkan di dekat warung bubur itu. Tio dan Tiwi tampak senang karena mereka puas dengan apa yang mereka dapatkan hari ini. Tiwi mendapatkan beberapa ilmu baru setelah olahraga pagi ini dan Tio dapat mengajarkan beberapa hal baik kepada adiknya. Ayah dan ibu pun tampak senang karena anak mereka saling menyayangi dan tidak pernah terjadi pertengkaran diantara mereka. Di dalam hati mereka bersyukur telah diberi keluarga yang bahagia, saling menyayangi, dan tidak lupa kepada sang Pencipta. Mereka juga berdoa agar mereka tetap dalam lindunganNya dan keluarga-keluarga dapat menikmati rahmat seperti keluarga mereka.

By taedyminnie Tagged

Surat Cinta pada Rasulullah

Bismillahirrahmanirrahim
Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala ali sayyidina Muhammad..
Ini suratku yang pertama untukmu, ya Rasulullah. Ungkapan rasa hatiku padamu, ya Rasulullah. Semoga semua yang ku utarakan melalui kertas ini, sampai kepadamu.
Aku belum pernah menyatakan cintaku padamu sebelumnya. Aku berharap semoga aku termasuk orang yang mencintaimu dan engkau cintai ya Rasulullah. Aku teringat saat aku menitikkan air mata saat aku mendengar kisahmu. Apakah air mataku itu termasuk air mata cinta untuk mu ya Nabiyallah.
Sungguh mulia akhlak mu ya Rasulullah. Bagaimana orang semulia engkau disakiti oleh orang-orang yang ingkar pada penciptanya sendiri. Seandainya aku berada pada zaman itu, akankah aku melindungimu ya Rasullah. Ataukah diriku yang lemah ini malah ikut menyakitimu. Apakah aku sanggup berkorban untuk melindungimu.
Aku marah pada mereka yang membencimu. Padahal engkau tidak pernah menyakiti mereka, bahkan engkau tak menaruh dendam pada mereka walau mereka berlaku begitu kejam. Begitu sabarnya engkau ya Habibullah. Bahkan engkau masih dapat memaafkan mereka setelah mereka mengancam jiwamu sendiri. Sungguh mulia hatimu ya Rasulullah.
Ya Rasulullah, alangkah indahnya Islam yang kau bawa. Islam mengajarkan kami hidup sehat dan benar. Hingga kami dapat hidup tanpa harus menderita penyakit hati ataupun penyakit yang melekat ke badan. Bahkan kau tau lebih banyak dibandingkan para dokter untuk menjaga kesehatan. Betapa engkau orang yang sangat cerdas, sungguh aku dapat melihat kebesaran Allah melalui dirimu.
Ya Rasulullah, tatkala malam hari kau selalu menangis meminta ampun akan semua dosamu. Sedangkan engkau telah dijamin oleh Allah menjadi penghuni surga. Betapa engkau sangat patuh dan tunduk kepada Allah. Apa yang aku lakukan, aku yang memiliki dosa tak sedikit ini malah jarang menangisi dosa yang telah aku lakukan. Akankah aku dapat mencium surga dan bertemu dengan mu jika aku tetap seperti ini.
Saat terjadi perkelahian antara umatmu, selalu engkau yang menengahi. Engkau carikan jalan keluar terbaik untuk segala perkara. Tentunya engkau selalu patuh kepada Allah dan tak hentinya sujud kepadaNya. Kau putuskan segala masalah berdasarkan hukum yang berdasarkan hukum Allah. Akankah ada saat ini sosok pemimpin seperti mu ya Rasulullah. Akankah para pemimpin kami ini mengikuti jejakmu dan patuh pada Allah.
Saat engkau akan meninggalkan kami, kau teteskan air matamu. Engkau menangis dan mengkhawatirkan kami. Padahal engkau tidak bertemu dengan kami, manusia akhir zaman. Engkau sangat mencintai kami umatmu. Tapi apa yang kami kami lakukan untukmu, kami malah mencintai sesuatu yang malah menyesatkan kami. Betapa bodohnya diri ini.
Salam dan shalawat kepadamu ya Rasulullah, Muhammad. Cintamu lah yang menjaga kami sampai sekarang ini. Semoga kami mendapatkan syafa’at darimu di hari kemudian nanti. Amin.

11-11-11

Dear diary,
Aku Natasha. Angka unik ini menjadi angka yang penting di dalam hidupku saat ini. Angka ini mengubah hidupku dalam waktu singkat. Beberapa bagian dari diriku diubah oleh angka ini. Bagian itu yaitu,………………………….., yaitu,…………………………., yaitu,……………………………..statusku.
Hari ini aku jadian dengan teman dekatku, namanya Deri. Aku sudah mengenalnya kira-kira enam tahun. Kami satu sekolah sejak SMP, di kelas 7 kami satu kelas. Setelah itu kami tidak pernah sekelas lagi, sampai kami tamat SMP. Kemudian kami melanjutkan SMA di sekolah yang sama, tetapi kami masih tidak sekelas. Sampai akhirnya kami sekelas di kelas akhir masa SMA, yaitu kelas 12.
Dulu disaat kami di SMP kami sempat dekat. Kami kemana pun pergi bersama, kebetulan rumah kami dekat. Saat malam hari, kami selalu belajar bersama-sama. Tetapi sesuatu peristiwa membuatku tidak lagi dekat dengannya.
Malam itu seperti biasa, kami akan belajar bersama. Siang hari Deri sudah pergi ke toko buku mencari buku yang dapat menjelaskan dengan mudah, karena dia berjanji untuk mengajarkan ku tentang logaritma. Sudah dua kali latihan di sekolah, nilai ku tidak pernah melebihi angka lima. Deri berniat membantu, dan ini dia yang menawarkan. Aku tentunya setuju saja dengan tawarannya. Niat baik ngapaian ditolak.
“Cuy, gue gak bisa nemenin lo ke toko buku. Gue lagi ada sesuatu. Lo gak papa sendirian kan?”
“Iye iye. Emang gue nak balita. Gue pergi sendiri juga gak papa lah.”
Aku kemudian pergi dengan mobil temanku ke suatu tempat. Temanku itu sebenarnya berniat mengenalkan ku dengan temannya. Katanya, temannya itu bikin gregetan. Menurut dia, aku cocok dengan temannya. Tentu aku terima permintaan itu, rezeki tak bleh ditolak tentunya.
Ternyata benar, temannya itu cakep. Tingginya kira-kira 180 cm, hidungnya mancung banget. Kulitnya putih lagi, namanya Tama. Tama asik diajak ngobrol, aku jadi banyak menghabiskan waktu nongkrong dengan Tama dan teman-temannya. Pukul 8.00 pm baru aku ingat ada janji sama Deri. Aku takut Deri marah, dan gak jadi ngajarin aku tentang logaritma. Aku gak ngerti sama sekali.

By taedyminnie Tagged

Bismillahirrahmanirrahim 2

Hi world …
Today I promise to start writing in my blog …
Perhaps the most vent ….
But I think my purpose well …
I wanted to share with anyone about the business achieve a better future. Particularly for the present to the UN and SNMPTN, since it’s high school grade 3. Maybe in it’s too late, but it would be wrong if not start at all.

I’ll write about what I do every day, until I get my results for later …
If the end result is good,,, I hope people can imitate it well …
however, if on the contrary,,, if I failed,,,, I hope people avoid what I do …

In addition, I also hope my diary … Through this … even though not really a diary,,, because people can read it …

I also hope other netizens,,, can help me … For example, giving constructive criticism …
Thanks …

By taedyminnie

Bismillahirrahmanirrahim…

Hi world…
Hari ini aku berjanji untuk memulai menulis d blog ku…
Mungkin kebanyakan curhat….
Tapi ku rasa tujuan ku baik…
Aku ingin berbagi dengan siapa saja tentang usaha mencapai masa depan yang baik. Khususnya bagi sekarang untuk UN dan SNMPTN, berhubung sekarang sudah kelas 3 SMA. Mungkin in sudah terlambat, tapi akan lebih salah jika tak memulainya samasekali.

Aku akan menulis tentang apa yang ku lakukan sehari-hari, sampai aku mendapatkan hasil untuk ku nanti…
Jika hasil akhirnya baik,,, aku berharap orang2 bisa menirunya juga…
namun, jika sebaliknya,,,jika aku gagal,,,,semoga cerita tentang ku ini orang2 menghindari apa yang telah ku lakukan…

Selain itu, aku juga berharap…Melalui diary ku ini…WAlau bukan benar2 diary,,, karena orang2 bisa membacanya…

aku juga harap teman2 netizen lainnya,,,bisa membantuku…Misalnya memberi kritikan yang membangun…
Makasih…

By taedyminnie